properti store

BALIHO-BALIHO KOSONG ITU MENANDAKAN KITA MUSTI BANYAK ISTIGHFAR, BUKAN BERSYUKUR


Mitra bisnis,
Mungkin anda termasuk orang yang menerima kabar pak Jokowi meminta kita bersyukur, tidak kufur nikmat, atas kondisi ekonomi yang mandeg dibawah 5 %. Dari sisi kenyataan, ekonomi Indonesia yang payah itu memang mudah terbaca dan dirasakan.

Pagi ini, saya melakukan perjalanan keluar kota. Tidak seperti biasanya, pandangan mata saya tiba-tiba tertuju pada baliho-baliho di sepanjang perjalanan menuju bandara Soekarno-Hatta.

Sekelebat, saya melihat dengan jelas dan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Baliho yang berjajar di sepanjang jalan menuju bandara terlihat kosong.

Tulisan berbunyi: for lease, atau disewakan, berikut nomor kontak dan perusahaan advertising terpampang di sudut baliho yang kosong. Ini menandakan apa ?

Mitra bisnis,
Mungkin sebagian kita berfikir bahwa iklan melalui baliho itu terlampau mahal. Mengurangi biaya dalam menjalankan bisnis, itu sama saja menambah margin keuntungan.

Mungkin, sebagian kita juga berfikir era now beriklan secara konvensional itu ketinggalan zaman, jadul. Sudah banyak platform sosial media untuk beriklan, selain murah juga lebih mendekatkan usaha kepada konsumen karena perilaku konsumen saat ini lebih karib dengan smartphone ketimbang mendongakkan wajah untuk melihat dan membaca iklan baliho.

Tetapi perlu disadari mitra bisnis,
Berbisnis itu tak sekedar mencari laba. Berbisnis itu juga soal gengsi, soal eksistensi.

Perusahaan-perusahaan besar tak hanya ingin produknya laris, tak cukup puas beriklan di sosial media demi efisiensi dan optimalisasi laba. Mereka juga butuh eksistensi, butuh kebanggaan, prestise, bahkan dignity.

Anda bisa bayangkan, betapa bangganya seorang pelaku usaha produknya terpampang di kaos klub sepakbola terkenal, atau iklannya muncul pada tayangan televisi di acara eksklusif. Kehadiran produk dalam even seperti ini, tak selalu berasas pada penjualan, tetapi juga eksistensi, kebanggaan.

Saya sendiri akan sangat bangga, jika produk kerupuk slondok Nasrudin Joha muncul di tv one dalam acara ILC. Meski saya yakin iklan itu tak terlalu signifikan mendongkrak penjualan slondok, tetapi saya akan sangat bangga iklan kerupuk itu tampil di televisi.

Nah,
Tampilnya pruduk pada iklan baliho besar disepanjang jalan menuju bandara itu wah, meski bukan bagi keseluruhan pelaku usaha. Ditinjau dari segmentasi, iklan juga ditujukan pada orang yang melakukan perjalanan menggunakan moda pesawat.

Tentu, segmen yang mau disasar memiliki kasta sosial yang lebih tinggi ketimbang mereka yang bepergian menggunakan moda angkot.

Lantas, apa makna kosongnya baliho-baliho di sepanjang jalan menuju bandara ?

Mitra bisnis, ini merupakan konfirmasi bahwa ekonomi Indonesia memang sedang payah. Pertumbuhan ekonomi dibawah 5 % itu membuat pelaku Usaha hanya berfokus untuk menjaga bisbis tetap berlanjut.

Mereka akan menunda atau bahkan membatalkan sejumlah rencana ekspansi usaha. Bisa terus dagang saja sudah syukur.

Belanja jasa khususnya jasa iklan untuk kebanggaan, rasanya saat ini bukanlah tindakan yang bijak bagi pelaku Usaha. Mereka, akan lebih memilih usaha hidup meski dengan kondisi serba apa adanya, ketimbang mengejar kebanggaan yang berbiaya tinggi tapi minus korelasi terhadap target penjualan.

Semua konsumen saat ini membatasi belanja, bahkan beberapa produk barang dan jasa mereka subtitusi dengan produk lain yang lebih murah. Kondisi ekonomi sedang prihatin, jadi rekomendasi yang harus dilakukan selain membuat serangkaian rencana peningkatan pertumbuhan ekonomi juga harus banyak istighfar.

Jadi keliru pak Jokowi, kita ini sedang susah seharusnya banyak istighfar bukan bersyukur. Negara juga harus fokus merencanakan pertumbuhan ekonomi, bukan sibuk meredam kegelisahan rakyat dengan ungkapan ungkapan sok agamis.

Mitra bisnis,

Ini sekelumit cerita saya. Pesan moral yang bisa dipetik adalah jika ada persoalan bisnis selesaikan dengan pendekatan bisnis. Jika ada persoalan ekonomi selesaikan dengan solusi ekonomi.

Jangan membuang masalah dan berdalih pada ungkapan agamis untuk menutupi ketidakcakapan mengelola ekonomi negara. [].

By Nasrudin Joha

0 Response to "BALIHO-BALIHO KOSONG ITU MENANDAKAN KITA MUSTI BANYAK ISTIGHFAR, BUKAN BERSYUKUR"

Posting Komentar